Bahasa Rakyat

Penulis: Erwan Juhara, Ketua Umum Asosiasi Guru/Dosen/Tenaga Kependidikan Penulis/Pengarang (Agupena) Jabar. Dimuat di Pikiran Rakyat.

Indonesia sebagai negara dwibahasa umumnya memiliki bahasa ibu yang dikenal sebagai bahasa daerah. Selain bahasa ibu, dalam masyarakat hidup juga bahasa rakyat, yaitu bahasa yang hidup dan dikenal dalam suatu komunitas atau masyarakat, baik yang lisan maupun tertulis sebagai bagian dari folklor. Secara etimologi, folklor adalah pengindonesiaan kata inggris folklore, kata itu adalah kata majemuk dari dua kata dasar folk dan lore. Folk artinya sama dengan kata kolektif (collectivity).

Alan Dundes (antropolog), mengatakan bahwa folk adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, kebudayaan sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri pengenal tersebut antara lain dapat berwujud; warna kulit, bentuk rambut, mata pencaharian, bahasa, taraf pendidikan, maupun agama yang sama. Mereka juga mewarisi tradisi yang sama, yakni kebudayaan yang telah mereka warisi turun-temurun, sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersama dan mereka juga sadar akan identitas kelompoknya. Jadi, folk adalah sinonim kata kolektif, yang juga memiliki ciri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama dan mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat. Adapun lore adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaannya yang diwariskan secara turun-temurun, melalui lisan atau contoh yang disertai gerakan isyarat yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device).

Jan Harold Brunvald (Ahli Folklor AS) membagi folklor atas tiga bentuk:

Pertama, folklor lisan (verbal folklor), yang bentuknya murni lisan. (a) Bahasa rakyat (folk speech) seperti logat, julukan, pangkat tradisional, titel kebangsawanan. (b) Ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, pemeo. (c) Pertanyaan tradisional seperti teka-teki. (d) Puisi rakyat seperti pantun, gurindam, syair. (e) Cerita rakyat prosa seperti mite, dongeng, legenda. (f) Nyanyian rakyat.

Kedua, folklor sebagian lisan, campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan yang menjadi kepercayaan rakyat= permainan rakyat, teater rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara adat, pesta rakyat. Di era modern, kepercayaan rakyat ini sering disebut takhayul, pernyataan lisan yang ditambah dengan gerak isyarat yang mempunyai makna gaib.

Ketiga, folklor bukan lisan tetapi cara pembuatannya diajarkan secara lisan. Bentuknya berupa material dan nonmaterial. Bentuk material: arsitektur rakyat (bentuk rumah asli daerah, lumbung padi, dan sejenisnya), kerajinan rakyat, pakaian dan perhiasan tubuh adat, masakan dan minuman rakyat, obat-obatan tradisional. Bentuk nonmaterial: gerak isyarat tradisional (gesture), bunyi isyarat untuk komunikasi rakyat (kentongan di Pulau Jawa dan gendang di Afrika), dan musik-musik rakyat.

Folklor lisan bahasa rakyat (folk speech) yang hidup di Indonesia antara lain: slang = kosa kata dan idiom para penjahat, gelandangan, kolektif khusus. Bahasa rakyat lainnya adalah sirkumlokasi (circumlocation), ungkapan tidak langsung, misalnya, eyang, mbah untuk macan jika di hutan, kerbau=kutu sawah, wartawan=kuli tinta/disket.

Bahasa fisiognomi (physiognomy) adalah julukan berdasarkan hubungan erat dengan bentuk tubuh orang, misalnya si pesek, si gendut, si kurus.

Bahasa anomatapoetis, bahasa yang dibentuk dengan mencontoh bunyi atau suara alamiah = Jawa= kukuruyuk, Sunda = kongkorongok, Prancis = cocorico.

Bahasa onomastis, nama tradisional jalan atau tempat tertentu yang mempunyai legenda sejarah terbentuknya hal itu. Contohnya Betawi dalam folk berasal dari kata ambet dan tahi yang berarti bau tahi (kotoran). Legendanya berkaitan dengan benteng Sultan Agung di Jayakarta yang disemprot kotoran manusia sehingga baru dapat dikuasai Belanda setelah hal itu dilakukan karena pasukan Sultan Agung kabur akibat tidak tahan dengan bau kotoran manusia tersebut.

Bahasa rakyat lain adalah bahasa jabatan/kebangsawanan, misalnya raden mas, kangjeng ratu, tubagus, sultan, dan sebagainya.

Fungsi bahasa rakyat ada empat, yakni untuk memperkokoh identitas folk-nya, melindungi folk pemilik folklor itu dari ancaman kolektif lain/penguasa, memperkokoh kedudukan folk-nya pada jenjang lapisan masyarakat, dan memperkokoh kepercayaan rakyat dari folk-nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: