Rekam Jejak

Penulis: Lie Charlie. Dimuat di Pikiran Rakyat.

Ketika pertama sekali membaca kata “rekam jejak“, saya sempat terkesima dan menduga-duga maknanya. Ternyata itu merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris “track record“. Artinya, catatan-catatan (sukses) seseorang dari masa lampau sampai sekarang. Saya kira, jika demikian, mungkin masih lebih elok menerjemahkan “track record” sebagai “catatan silam” daripada “rekam jejak“. Kita tidak perlu menerjemahkan suatu istilah kata demi kata jika hasilnya mencurigakan.

Kita terbiasa menerjemahkan secara harfiah kata per kata, padahal amanat Pedoman Umum Pembentukan Istilah tidak secara jelas dan tegas menyatakan mesti begitu. Sebetulnya, kita sudah melakukan kecerobohan yang sama saat menerjemahkan software menjadi “perangkat lunak“. Astaga, perangkat lunak? Astaga, tidakkah itu sesuatu yang menyangkut tubuh perempuan? Astaga, mengapa kita menjadi berpikiran kotor? Inilah salahnya dan bahayanya menerjemahkan kata per kata secara harfiah. Soft akan diterjemahkan tidak jauh dari “lunak“, “empuk“, atau “lembek“. Apa yang lunak, empuk, dan lembek? Astaga!

Dalam bahasa Inggris, istilah software sendiri merupakan bentukan baru. Istilah ini tercipta dan muncul berbarengan dengan kehadiran komputer dalam kehidupan kita. Komputer terdiri atas unit nyata yang dapat dilihat dan diraba, serta “program” yang tidak dapat dilihat atau diraba. Maka diciptakanlah istilah hardware guna memaknai perangkat komputer berupa unit elektronik dan software untuk memaknai “program“-nya.

Softdrink diterjemahkan menjadi “minuman ringan“. Ini juga hasil menerjemahkan secara harfiah, tetapi terbantu oleh istilah “minuman keras” yang sebelumnya sudah kita kenal makna konotasinya, maka hasil terjemahan tersebut langsung berkenan diterima penutur Bahasa Indonesia.

Sebaiknya gabungan kata-kata bahasa asing tidak diterjemahkan kata per kata, melainkan diterjemahkan sekaligus dari makna hasil penggabungannya, sehingga deadline (dari dead + line) dan deadlock (dead + lock) tidak diterjemahkan menjadi “garis mati” dan “kunci mati“. Syukurlah, bahwa deadline dapat digantikan dengan “tenggat” dan deadlock bisa dipadankan dengan “jalan buntu” sambil tidak membawa-bawa kata “mati“.

Kita bangsa yang kreatif dalam berbahasa. Sering kali “terjemahan” datang bukan dari ahli bahasa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat biasa. Tidak jarang pula istilah pengganti sekonyong-konyong muncul dari kelompok pergaulan anak-anak muda. Simsalabim, tahu-tahu kini kita mengenal kata “lebai“. Pembaca yang tidak memahami arti kata “lebai” ketahuan tidak gaul. “Lebai” itu overacting. “Ah, lebai lu!

Saya juga sangat takjub pada penerjemahan automatic teller machine menjadi anjungan tunai mandiri yang baik dalam bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia menghasilkan singkatan yang identik: ATM. Kalau tidak salah, hasil “penerjemahan” ini juga tidak datang dari ahli bahasa, melainkan hasil ulak-ulik penutur Bahasa Indonesia umum.

Kita masih menunggu apakah pergaulan di luar sana akhirnya dapat pula “menerjemahkan” kata-kata seperti off the record atau single parent menjadi kata atau istilah yang manis. Kalau diserahkan kepada ahli bahasa, hasil penerjemahan mungkin agak kaku, tidak jauh dari “tidak direkam” atau “orangtua tunggal“. Kita ingin sesuatu yang lebih mengena dan enak, seperti terungkitnya kata bahasa Sunda “jomblo” untuk memadani unmarried. Kalau tanya ahli bahasa tentang terjemahan unmarried, pasti ia menjawab “Tidak menikah atau belum menikah atau tidak punya pasangan.”

Capek deh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: