Haruskah (Editor) Merujuk pada KBBI?

Oleh Bambang Trim, 10 Oktober 2008

KAMUS Besar Bahasa Indonesia termasuk karya besar bangsa Indonesia. Sudah seyogianya kamus susunan Pusat Bahasa ini menjadi rujukan bagi para pengguna bahasa, terutama yang berkutat dalam hal standardisasi bahasa. Meskipun demikian, tidaklah kita mungkiri bahwa KBBI masih menyimpan beberapa “keanehan” seperti kasus pelekatan imbuhan me- dengan kata dasar berawalan huruf tertentu. Contoh konkret dalam KBBI Daring, terdapat kata “sinyalir” yang berubah menjadi “mensinyalir”. Seharusnya jika mengikuti rumus perubahan menjadi “menyinyalir” . Lalu, ada kata “sinergi” menjadi “mengnyinergikan”, juga sebuah keanehan penerapan rumus.

Dalam kasus tertentu ada perbedaan penggunaan imbuhan me- + pelajari menjadi “memelajari” dan “mempelajari” (kata ini tidak terbentuk dari konfiks memper-i, tetapi dari me + elajari). Tentu yang benar adalah yang terakhir yaitu ”mempelajari” karena me- tidak luluh jika dilekatkan pada kata berimbuhan.

Kemudian muncul juga bentuk “pembelajaran” dan “pemelajaran” . Kata terakhir kerap digunakan dalam tulisan Mas Hernowo (Mizan) dalam buku-bukunya bertema pendidikan. Saya mafhum karena bentuk yang benar adalah “pemelajaran” jika dimaknai sebagai proses atau perbuatan mempelajari. Bentukannya berasal dari pe + mempelajari. Adapun “pembelajaran” bermakna proses atau perbuatan membuat orang/makhluk jadi belajar.

Bentukannya adalah pe + belajar + an (konfiks pe-an). Dua-duanya betul dalam versi KBBI, tetapi konteks penggunaannya berbeda sesuai dengan maknanya.

Proses morfologi (tata bentuk) ini memang harus dibedakan dengan penetapan kata dasar baku atau kata dasar nonbaku (sekadar x sekedar, teladan x tauladan, impit x himpit, lembap x lembab). Tidak jarang tata bentuk membuat bingung sendiri para pengguna bahasa, tidak terkecuali dari berbagai proses, akhirnya muncul juga ketidakkonsistenan, termasuk oleh KBBI produksi Pusat Bahasa sendiri. Karena itu, untuk rujukan kata baku tentu sebagian besar editor harus menetapkan keputusan berdasarkan KBBI. Namun, untuk beberapa hal tertentu sebagai gaya selingkung (karena perbedaan pendapat), bisa menetapkan keputusan sendiri.

Saya sempat mendengar soal berbeda ‘mazhab’ antara misalnya para ahli linguistik Unpad dan UI. Pak Jus Badudu bisa berbeda memandang kata “sering kali” sebagai frasa tidak baku. Menurut beliau “sering” artinya “banyak kali” sehingga “sering kali” menjadi “banyak kali-kali”. Jadi, yang baku adalah “acapkali” atau “kerapkali”. Saya termasuk yang menganut pendapat ini sehingga begitu menemukan kata “seringkali” , pasti saya ganti dengan “kerapkali” atau “acapkali”. Namun, KBBI membenarkan kata “sering kali”.

Ada juga perbedaan di lingkungan Sastra Indonesia Unpad. Misalnya, penggunaan kata “tak”. Kata “tak” merupakan singkatan dari kata “tidak” sehingga disamakan dengan “mu” ataupun “ku” dan penulisannya harus disatukan. Jadi, ditemukanlah bentukan seperti “takjemu” dan “takmau”. Saya tidak menganut yang seperti ini, tetapi mengikuti KBBI. Mungkin orang bilang saya tidak konsisten: “Kalau mau ikutKBBI, ikut KBBI saja.” Cuma pertanyaannya: “Lha KBBI sendiri terkadang tidak konsisten, bagaimana kita pun bisa konsisten untuk persoalan kebahasaan jika mengikuti satu pendapat?”

Keputusan yang diambil sebuah lembaga penerbitan tentu diharapkan menjunjung tinggi lembaga pemerintah seperti Pusat Bahasa. Namun, ada juga sifat otonom untuk menetapkan aturan kebahasaan sendiri yang berbeda dengan pendapat Pusat Bahasa.

Saya sebenarnya tidak terlalu paham, tetapi terkadang ada kesan persoalan bahasa dikaitkan dengan persoalan personal para pengusungnya, seperti mazhab Jus Badudu, mazhab Harimurti Kridalaksana, mazhab Gorys Keraaf, mazhab Dendy Sugono, mazhab Anton Moeliono, atau mazhab Hasan Alwi. Hal ini tentu wajar terjadi mengingat para ahli itu memiliki argumen terhadap pendapatnya. (Terbukti Mas Widyatmoko juga menyindir Harimurti dengan julukan “Eyang Harimurti”, mengapa tidak menyebut Jus Badudu dengan “Eyang Badudu” juga? Hal ini tampak sangat subjektif, padahal argumen

Harimurti juga bisa berterima (berterima?) . )

Apa itu gaya selingkung? Istilah ini muncul kali pertama dalam dunia penerbitan. Adapun yang mengenalkannya Bapak Adjat Sakri, sebelumnya beliau sempat bekerja sebagai kepala di Penerbit ITB dan sangat rajin mencari istilah-istilah baru untuk menyebut padanan kata tertentu. Gaya selingkung merupakan padanan dari house style yang merupakan istilah khusus di bidang penerbitan. Tentu rasanya kurang pas jika dipadankan menjadi “gaya rumahan”. Selain itu, banyak istilah lain yang ditetapkan sebagai upaya juga memperkaya (bukan memerkaya) bahasa Indonesia dengan tidak harus menunggu dari Pusat Bahasa. Beberapa istilah yang saya maksud seperti “judul lelar” sebagai padanan dari “running title”, “halaman pancir” sebagai padanan dari “preliminaries” , atau “kuras” sebagai padanan dari “kateren”. Karena itu, kemudian istilah “gaya selingkung” juga masuk sebagai entri contoh pada KBBI.

Saya harap diskusi ataupun pendapat seperti ini bukan untuk menetapkan siapa yang benar. Namun, teman-teman editor perlu kukuh memegang suatu pendapat atau juga bersifat fleksibel untuk mencari tahu kebenaran yang diyakini. Ada kalanya pendapat kita berubah seiring dengan bertambahnya masukan dan ilmu yang kita pelajari.

Pendapat radikal pernah dikeluarkan oleh seorang editor senior di luar negeri. “Ada kalanya kita salah atau menggunakan penetapan bahasa yang tidak standar. Hal ini sah-sah saja, asalkan konsisten!” Saya hanya mengambil sisi baiknya bahwa penting bagi editor untuk istiqamah atau konsisten dalam menetapkan suatu keputusan. Tidak boleh di satu naskah editor menetapkan hal ini yang benar, di naskah lain berubah, bahkan lebih parah jika di setiap halaman berubah-ubah keputusannya.

Silakan meyakini pendapat yang menurut Anda kuat, termasuk meyakini KBBI. Namun, tidak salah juga meyakini hal-hal lain di luar ketetapan KBBI dengan argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jikalau ingin memperdalam, Anda bisa membaca buku-buku standar kebahasaan ataupun penerbitan, seperti Tata Bahasa Baku Indonesia (Pusat Bahasa), Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia (Harimurti Kridalaksana), Inilah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar (Jus Badudu), Komposisi (Gorys Keraaf), Penyuntingan Naskah (Pamusuk Eneste), Buku Pintar Penerbitan Buku (Tim Grasindo), Peristilahan (Sofia Mansoor), dan banyak lagi.

Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: