Inventarisasi Bahasa-Bahasa Daerah di NTT

Ditulis oleh Inyo Yos Fernandez. Dimuat di situs Pusat Bahasa.

Makalah ini bertujuan untuk membahas masalah inventarisasi bahasa-bahasa di NTT, yang tidak hanya meliputi bahasa-bahasa anggota subkelompok Melayu-Polinesia Tengah (MPT) tetapi juga kelompok Non AN. Dari hasil kajian para peneliti terdahulu, tampak bahwa masih terdapat silang pendapat yang simpang siur mengenai hal tersebut. Inventarisasi terhadap bahasa-bahasa NTT baik oleh linguis SIL (Grimmes dkk., 1997) maupun oleh Pusat Bahasa (Lauder, dkk., 2000), masih belum memuaskan, karena beragam kendala yang dihadapi.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Rumah

Penulis: Agus R. Sarjono, Sastrawan, Redaktur Majalah Sastra Horison. Dimuat di Majalah Tempo.

Bahasa Inggris tidak mengenal kata kita dan kami. Untuk keduanya, digunakan kata we. Jadi, saat digunakan kurang begitu jelas apakah we itu bermakna kita atau kami. Bahasa Indonesia membedakan dengan jelas antara kami dan kita.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Bahasa Rakyat

Penulis: Erwan Juhara, Ketua Umum Asosiasi Guru/Dosen/Tenaga Kependidikan Penulis/Pengarang (Agupena) Jabar. Dimuat di Pikiran Rakyat.

Indonesia sebagai negara dwibahasa umumnya memiliki bahasa ibu yang dikenal sebagai bahasa daerah. Selain bahasa ibu, dalam masyarakat hidup juga bahasa rakyat, yaitu bahasa yang hidup dan dikenal dalam suatu komunitas atau masyarakat, baik yang lisan maupun tertulis sebagai bagian dari folklor. Secara etimologi, folklor adalah pengindonesiaan kata inggris folklore, kata itu adalah kata majemuk dari dua kata dasar folk dan lore. Folk artinya sama dengan kata kolektif (collectivity).

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Hijriah

Penulis: Asep Juanda. Dimuat di Pikiran Rakyat (27 Des 2009).

Umat Islam mempunyai kalender khusus yang dinamakan kalender Hijriah. Ada alasan penting dinamakan dengan nama tersebut. Dinamakan kalender Hijriah karena sistem penanggalan dalam kalender Islam (1 Muharram 1 Hijriah) dihitung sejak peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad saw. beserta para pengikutnya dari Mekah ke Madinah atas perintah Tuhan.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Menghindari dan Menghindarkan

Dari Buku Praktis Bahasa Indonesia 1, Pusat Bahasa.

Kata menghindari dan menghindarkan tidak dibentuk dari kata dasar hindar serta imbuhan me-…-i dan me-…-kan, tetapi berasal dari bentuk hindari dan hindarkan yang mendapat awalan me-. Kedua kata itu pemakaiannya sering dikacaukan karena pada umumnya orang menganggap bahwa kedua kata itu memiliki makna yang sama. Akibatnya, kedua kalimat seperti berikut ini dianggap mengandung informasi yang sama.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Penulisan Nama Geografi

Dari Buku Praktis Bahasa Indonesia 2, Pusat Bahasa.

Nama geografi, khususnya nama kota/wilayah di Indonesia, ada yang ditulis dalam dua bentuk: ada yang dipisah dan ada pula yang dirangkai. Untuk keseragaman penulisan nama geografi itu, Pusat Bahasa bekerja sama dengan Bakosurtanal, telah menetapkan pembakuan. Pada prinsipnya nama geografi ditulis dalam satu kata atau serangkai, kecuali (1) yang terdiri atas tiga unsur atau lebih dan (2) yang berupa arah mata angin. Dengan demikian, nama wilayah geografi yang hanya terdiri atas dua unsur ditulis serangkai.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Rekam Jejak

Penulis: Lie Charlie. Dimuat di Pikiran Rakyat.

Ketika pertama sekali membaca kata “rekam jejak“, saya sempat terkesima dan menduga-duga maknanya. Ternyata itu merupakan terjemahan dari kata bahasa Inggris “track record“. Artinya, catatan-catatan (sukses) seseorang dari masa lampau sampai sekarang. Saya kira, jika demikian, mungkin masih lebih elok menerjemahkan “track record” sebagai “catatan silam” daripada “rekam jejak“. Kita tidak perlu menerjemahkan suatu istilah kata demi kata jika hasilnya mencurigakan.

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »