Inventarisasi Bahasa-Bahasa Daerah di NTT

Ditulis oleh Inyo Yos Fernandez. Dimuat di situs Pusat Bahasa.

Makalah ini bertujuan untuk membahas masalah inventarisasi bahasa-bahasa di NTT, yang tidak hanya meliputi bahasa-bahasa anggota subkelompok Melayu-Polinesia Tengah (MPT) tetapi juga kelompok Non AN. Dari hasil kajian para peneliti terdahulu, tampak bahwa masih terdapat silang pendapat yang simpang siur mengenai hal tersebut. Inventarisasi terhadap bahasa-bahasa NTT baik oleh linguis SIL (Grimmes dkk., 1997) maupun oleh Pusat Bahasa (Lauder, dkk., 2000), masih belum memuaskan, karena beragam kendala yang dihadapi.

Dalam penelitian SIL (Grimmes dkk., 1997) dinyatakan bahwa terdapat 61 bahasa daerah di NTT. Di Kabupaten Alor dan Flores Timur, seperti dinyatakan Lauder dkk. (2000), terdapat 12 bahasa (di Flores Timur) dan 18 bahasa (di Alor). Menurut Grimmes dkk., terdapat 11 bahasa di Flores Timur dan 17 bahasa di Alor. Terdapat kemiripan kedua pendapat itu mengenai jumlah bahasa di kedua kabupaten itu, sesuai dengan pengakuan penutur bahasa. Belum dilakukan inventarisasi bahasa yang baik dan tepat di NTT dengan metode dan teori yang memadai. Langkah serupa itu perlu diterapkan secara menyeluruh sesuai dengan kajian linguistik diakronis yang menggunakan metode komparatif, baik dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif, seperti telah dilakukan untuk beberapa bahasa di NTT, seperti bahasa Sumba (Budasi, 2007) dan bahasa-bahasa di Flores (Fernandez, 1988, 1996).

Agar tercapai inventarisasi bahasa-bahasa di NTT dengan hasil yang memadai dan terukur, penginventarisasian bahasa-bahasa di NTT perlu dilakukan melalui kajian yang menerapkan metode dan teori yang tepat, bukan melalui pengakuan penutur yang bahasa diteliti semata. Sangat mendesak didirikannya balai atau kantor bahasa yang dapat mengkoordinasi langsung kajian bahasa-bahasa di NTT yang tinggi heterogenitasnya, sebagaimana terdapat di propinsi lainnya di Indonesia, seperti di Maluku, Papua, dan lain-lain.

Kata kunci: Inventarisasi bahasa, subkelompok bahasa Melayu Polinesia; Tengah; kelompok bahasa Non AN; linguistik dialkronis; bahasa berkerabat.

1. Pendahuluan

Sesuai dengan hasil penelusuran pustaka tentang pengelompokan serta status bahasa-bahasa sekerabat di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku (Fernandez, 2007), terungkap bahwa sejumlah besar bahasa-bahasa berkerabat di Propinsi NTT tergolong anggota subkelompok bahasa Melayu-Polinesia Tengah (MPT) atau Central Melayo-Polinesia (CMP). Selain itu, terungkap pula bahwa seperti halnya bahasa-bahasa di Maluku, terdapat juga sejumlah bahasa berkerabat di NTT yang oleh para linguis Austronesia dibedakan dari bahasa-bahasa anggota subkelompok MPT. Ada beberapa nama diberikan bagi kelompok bahasa-bahasa itu , selain yang lebih populer dan oleh umum dikenal sebagai kelompok bahasa Non Austronesia (AN).

Selain subkelompok bahasa MPT, dewasa ini para linguis AN berpendapat bahwa di kawasan Nusantara masih terdapat juga subkelompok bahasa Melayu-Polinesia Barat (MPB) atau Western Malayo-Polynesia (WMP) dan Melayu-Polinesia Timur atau Eastern Malayo-Polynesia (EMP). Bahasa-bahasa MPT yang berada di kawasan transisi, merupakan bahasa-bahasa kerabat yang secara geografis terletak di antara subrumpun MPB dan MPT (Blust, 1977).

Dalam diagram silsilah kekerabatan bahasa anggota subrumpun MP terlihat bahwa cabang rumpun bahasa AN itu menggambarkan relasi kekerabatan bahasa-bahasa yang berasal dari pisahan pertama rumpun bahasa AN, yang membentuk di satu sisi cabang dwipilah subkelompok bahasa Formosa dan di sisi lain cabang dwipilah MP. Selanjutnya, pisahan cabang dwipilah berikutnya membedakan MP atas dwipilah MPB, dan MP Tengah Timur (MPTeTi). Pada gilirannya masing-masing cabang dwipilah MP Tengah (MPTe) dan MP Timur (MPTi) berasal dari pisahan subkelompok MPTeTi. Subkelompok bahasa-bahasa MPTe selanjutnya mengalami pisahan atas cabang dwipilah yang menurunkan subkelompok bahasa di NTT dan Maluku, sedangkan cabang subkelompok MPTi di satu sisi menurunkan cabang dwipilah tempat bahasa-bahasa di Halmahera Selatan dan Papua Barat berasal, sementara di sisi lain tempat bahasa-bahasa yang termasuk anggota subkelompok Oceania diturunkan (Blust, 1977).

Berikut ini disajikan diagram pohon kekerabatan rumpun bahasa AN menurut pengelompokan Blust.

Rumpun AN

Formosa MP
MPTeTi
MPB
MPTe MPTi

Hlm Selatan &
NTT Maluku PapuaBarat Oceania

Dalam diagram pohon silsilah kekerabatan bahasa serumpun di atas tampak pengelompokan rumpun bahasa AN secara kualitatif (hasil penelitian Blust). Pengelompokan itu dilakukan dengan memanfaatkan perbandingan kategori sintaksis dalam rangka mengamati evidensi inovasi bersama secara eksklusif yang terkait dengan hasil perbandingan kategori sintaksis pronomina persona Menurut Blust, selain evidensi di bidang sintaksis, ditemukan pembuktikan pengelompokan itu berdasarkan evidensi inovasi fonologis bersama secara eksklusif yang mengukuhkan pula evidensi sintaksis itu.

Apabila hasil pemetaan bahasa di Indonesia yang pertama kali yang dipublikasi oleh Esser (1938) tentang pengelompokan bahasa-bahasa di Indonesia ditinjau kembali dengan lebih saksama, tampak bahwa pengelompokan bahasa-bahasa di NTT terpisah atas dua subkelompok bahasa yaitu subkelompok Ambon-Timor dan subkelompok Bima-Sumba . Seperti pada subkelompok Ambon-Timor, yang keanggotaannya tidak hanya termasuk bahasa-bahasa kerabat di Maluku saja tetapi meliputi juga Timor, demikian pula halnya dengan subkelompok bahasa Bima-Sumba yang tidak hanya meliputi juga bahasa-bahasa Bima di Sumbawa Timur (NTB) saja, tetapi juga bahasa-bahasa Sumba dan bahasa-bahasa di Flores Barat dan Flores Tengah di NTT.

Sementara itu, di bagian yang lain tampak bahwa bahasa-bahasa di pulau Alor dan Pantar yang semula dalam pengelompokan itu termasuk anggota subkelompok Ambon-Timor, dalam klasifikasi yang diajukan Greenberg (1971) pada kurun waktu yang lebih kemudian termasuk dalam kelompok bahasa-bahasa Timor-Alor. Namun, patut dicatat adanya perbedaan dalam kedua nama itu. Apabila dalam pengelompokan Jonker, bagi bahasa-bahasa anggota subkelompok Ambon-Timor di Kabupaten Alor yang sekarang, belum ada pembedaan atas kelompok AN dan Non AN di wilayah itu. Dalam label kelompok Timor-Alor yang diusulkan Greenberg itu lebih dimaksudkan anggota bahasa-bahasa di Timor dan Alor yang termasuk kelompok bahasa Non AN.

Dari peta bahasa Esser itu terlihat dengan jelas pandangan Jonker (1904, 1905) yang tercermin di dalamnya, khususnya bagi bahasa-bahasa di di Indonesia Timur, terutama yang sering dikenal sebagai bahasa-bahasa di daerah transisi. Pandangan Jonker itu tampaknya menjadi sumber inspirasi utama bagi pemetaan bahasa-bahasa di wilayah ini ketika Wurm dan Hattori (1981-1983) menerbitkan peta bahasa terbaru dengan informasi yang masih sama dengan pandangan Jonker tersebut. Karya Jonker (1918) yang orisinal itu, masih dapat ditelusuri melalui hasil karyanya mengenai bahasa-bahasa di kawasan NTT dan sekitarnya yang dimuat di dalam buku Ensiclopedie van Nederlandsch Indie jilid 2. Penjelasan yang disampaikan Jonker khususnya mengenai subkelompok bahasa AN di kawasan itu merupakan tindak lanjut pengelompokan bahasa-bahasa di Indonesia yang disarankannya sebagai alternatif menyusul sanggahannya terhadap karya pengelompokan Brandes yang dimuat di dalam majalah Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda yang terbit tahun 1914.

Demikian pula, dalam peta bahasa yang diterbitkan Salzner (1960) masih tampak jelas hasil kompilasi yang berasal dari pemikiran Jonker, melalui peta Esser karena sejumlah informasi tentang bahasa-bahasa di kawasan NTT terutama tentang pengelompokan Ambon-Timor dan Bima-Sumba, sangat mirip dengan hasil yang tercantum dalam peta Esser. Pada dasarnya informasi yang disajikan Salzner pada peta itu masih mirip dengan yang dapat diamati pada peta bahasa terbaru yang diterbitkan oleh pihak penerbit Autralian National University karya Wurm & Hattori (1981 dan 1983). Dengan demikian, patut digarisbawahi bahwa gagasan Jonker masih tercermin dalam kedua publikasi mengenai peta bahasa-bahasa di daerah di Indonesia Timur.

Sebelum dipaparkan lebih lanjut persoalan iventarisasi bahasa-bahasa di NTT, perlu diuraikan secara sekilas pada awalnya tentang bahasa-bahasa di kawasan transisi yang termasuk kelompok bahasa-bahasa Non AN. Patut dicatat bahwa dalam rangka pemetaan bahasa-bahasa berkerabat di Indonesia yang sedang dirintis oleh Pusat Bahasa dewasa ini, perlu disadari bahwa bahasa non-AN khususnya kelompok bahasa Timor-Alor, tidak hanya meliputi bahasa non AN di daerah perbatasan dengan Timor Leste dan Kabupaten Atambua, Propinsi NTT seperti Bahasa Bunak dan Kemak (Marae), di samping bahasa di Alor dan Pantar, tetapi juga termasuk, bahasa-bahasa di Timor Leste seperti bahasa Makasai dan Fataluku serta bahasa-bahasa di Maluku Barat Daya, seperti bahasa Wetar dan Oirata (Greenberg, 1971).

Pemberian label kelompok bahasa-bahasa Timor-Alor yang diusulkan Greenberg bagi sekelompok bahasa yang termasuk kelompok Filum Papua Barat di NTT dan Timor Leste, patut mendapat perhatian khusus karena istilah kelompok bahasa-bahasa itu perlu dibedakan dari subkelompok Ambon-Timor. Subkelompok bahasa Ambon-Timor itu merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari istilah subkelompok Bima-Sumba dalam kelompok bahasa-bahasa AN di kawasan transisi yaitu wilayah bahasa-bahasa yang termasuk subkelompok AN Tengah atau MPT.

Para linguis Belanda seperti Riedel (1885), Cowan (1963, 1973) telah mengidentifikasi ciri-ciri bahasa Non-AN di wilayah Maluku Utara. Demikian pula, Jong (1935) telah menjelaskan hal yang sama tentang bahasa Oirata di pulau Kisar, Maluku Barat, dengan menggambarkan sekelumit perbedaan ciri-cirinya dengan bahasa-bahasa subkelompok bahasa MPT yang tersebar di kawasan transisi. Peneliti lainnya seperti Capell (1951), Berthe (1969), Stokhof (1975), dan Steinhauer (1989) mengungkapkan hal yang serupa khususnya tentang bahasa-bahasa yang termasuk anggota kelompok Timor-Alor.

Apabila pengelompokan bahasa-bahasa kerabat dalam subkelompok MPT ditinjau secara sekilas, dapat diamati bahwa ciri-ciri khusus bahasa-bahasa di daerah tertentu, seperti yang dapat dijumpai di antara beberapa bahasa di Flores dan Timor, memiliki sejumlah kemiripan sintaksis tertentu dengan bahasa-bahasa non-AN yang tersebar di wilayah itu. Hal tersebut dimungkinkan karena kontak bahasa yang telah lama berlangsung antarbahasa non AN dan bahasa-bahasa AN di kawasan itu. Kemiripan fitur-fitur linguistik yang demikian jika dibandingkan dengan yang terdapat pada bahasa-bahasa anggota subkelompok MPB, bukan merupakan fenomena kebahasaan yang berciri AN yang bersifat paralel sehingga cenderung dapat dipandang seolah-olah sebagai fitur-fitur yang ditandai sebagai ciri-ciri inovasi bersama yang dialami secara eksklusif di bidang sintaksis pada bahasa-bahasa anggota subkelompok MPT. Karena ciri-ciri serupa itu tidak dialami oleh bahasa-bahasa subkelompok MPB. Salah satu kemungkinan, terdapat dugaan kemunculannya berasal dari hasil proses hibridanisasi akibat kontak yang terjadi dengan bahasa-bahasa non Austronesia khususnya di bidang sintaksis dan kemudian secara paralel menyebar pada bahasa-bahasa anggota MPT lain. Hal itu dapat diamati pula pada tataran fonologi dan leksikon . Sejumlah kemiripan fitur gramatikal yang cukup menonjol pada tataran sintaksis seperti diuraikan dalam karya Fernandez (2000). Hal itu bukan mustahil dapat dipandang sebagai hasil saling pengaruh yang terjadi akibat kontak bahasa yang telah lama berlangsung antarbahasa non AN dengan bahasa-bahasa anggota MPT.

Sesuai dengan situasi kebahasaan di daerah transisi itu, seperti yang telah diuraikan, maka kegiatan inventarisasi bahasa-bahasa di wilayah NTT sudah sepatutnya dilakukan tanpa mengabaikan penjelasan tentang keanggotaan bahasa-bahasa yang tergolong sebagai anggota kelompok Non AN. Karena itu, patut dicatat pula bahwa adakalanya menyangkut masalah status keanggotaan bahasa-bahasa itu, bukan mustahil terjadi bahwa adakalanya salah satu bahasa yang telah diidentifikasi sebelumnya oleh seseorang linguis sebagai bahasa non AN, namun setelah dikaji secara cermat ternyata bahasa tersebut seharusnya termasuk anggota subkelompok bahasa MPT. Karya Capell pada awal tahun 1950-an tentang bahasa-bahasa di Flores, atau karya Walker (1980) tentang bahasa Sawu, dapat diperlihatkan sebagai salah contoh dari kekeliruan serupa itu. Demikian pula, karya Alan (1967) mengenai bahasa Kemak di perbatasan wilayah Timor Barat (NTT) dan Timor Leste yang semula diduga sebagai bahasa AN. Namun, setelah dicermati ternyata bahasa itu termasuk anggota kelompok bahasa non AN.

Penelitian Dyen (1965) terhadap sekitar 250 bahasa sekerabat rumpun AN, berdasarkan kajian kuantitatif menghasilkan antara lain pengelompokan bahasa-bahasa yang dikenal sebagai Mollucan linkage yaitu bahasa-bahasa sekerabat yang beranggotakan bahasa-bahasa di sekitar kawasan Maluku. Bahasa-bahasa tersebut merupakan bahasa-bahasa kerabat yang khusus ada di Indonesia Timur dan memiliki perbedaan dengan bahasa-bahasa kerabat di kawasan Indonesia Barat yang disebut Dyen sebagai Hesperonesian Linkage. Pada untaian Maluku (istilah bagi Mollucan linkage) tersebut antara lain ditemukan juga bahasa-bahasa yang termasuk dalam kelompok bahasa Sika (Sikkic subgroup), yang antara lain menyertakan bahasa Sumba sebagai anggotanya di dalam kelompok itu (Uhlenbeck, 1971).

Ketika dilakukan peninjauan kembali hasil klasifikasi Dyen (1982), terhadap sejumlah bahasa-bahasa AN yang telah dicapai sebelumnya (Dyen, 1965), gambaran sekilas tentang silsilah kekerabatan bahasa-bahasa di Nusantara, terutama tentang bahasa-bahasa di kepulauan Nusa Tenggara pada umumnya, ditemukan Dyen bahwa pada bahasa-bahasa itu peringkat tertinggi dalam relasi kekerabatan bahasa-bahasa itu terdapat pada subkelompok bahasa-bahasa di Flores. Selain itu, peringkat relasi kekerabatan antarbahasa yang cukup tinggi berikutnya adalah bahasa-bahasa anggota subkelompok Bali (Bali Subgroup) yang beranggotakan bahasa Bali-Sasak-Sumbawa. Dengan demikian, bahasa-bahasa kerabat yang termasuk dalam kedua golongan subkelompok bahasa tersebut memiliki hubungan kekerabatan yang cukup erat menurut pandangan Dyen.

Sesuai dengan hasil penelitian Fernandez (1996) telah ditinjau kembali label subkelompok bahasa-bahasa Ambon-Timor di pulau Flores di satu pihak dan subkelompok bahasa-bahasa Bima-Sumba di pihak lain. Melalui penelitian yang lebih saksama, mendalam, dan dengan menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif serta didukung pula dengan kajian teori yang lebih maju sesuai dengan kemajuan zamannya, berdasarkan hasil yang lebih memadai jika dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai Jonker dan Brandes seabad yang lalu. Dengan demikian, dapat dibuktikan bahwa bahasa-bahasa di Flores merupakan sekelompok bahasa kerabat yang terdiri dari sembilan bahasa berkerabat yang erat hubungannya. Dengan demikian, hasil kajian itu menolak alasan yang mengandaikan bahwa terdapat subkelompok bahasa Ambon-Timor di Flores bagian timur sementara terdapat subkelompok bahasa Bima-Sumba di Flores bagian barat. Sembilan bahasa berkerabat yang membentuk subkelompok Flores tersebut terdiri atas bahasa Komodo, Manggarai, Rembong, Ngadha, Lio, Palu’e, Sika, Lamaholot, dan Kedang.

Sesuai dengan hasil kajian kuantitatif yang dicapai Dyen seperti dikemukakan sebelumnya, terbuka peluang bagi kajian hubungan kekerabatan bahasa-bahasa secara internal baik di dalam subkelompok Flores bagi Fernandez (1988) maupun bagi Mbete (1992) dalam mengkaji relasi kekerabatan subkelompok Bali-Sasak-Sumbawa. Dengan demikian, telah mulai dirintis penelitian kekerabatan bahasa melalui pendekatan linguistik komparatif diakronis untuk tujuan inventarisasi menyangkut penetapan status dan jumlah bahasa-bahasa sekerabat di wilayah NTT khususnya. Penelitian kekerabatan bahasa-bahasa di wilayah itu belum dilakukan secara tuntas dengan kerangka teori dan metode yang sama dan dapat dipertanggungjawabkan melalui tahapan penelitian pengelompokan mikro terhadap bahasa-bahasa di NTT yang memiliki jumlah yang besar dengan heterogenitas yang tinggi. Dalam keragaman etnis yang tercermin melalui bahasa ini tersimpan aset budaya bangsa yang kaya. Namun, patut disayangkan bahwa hingga kini penanganan terhadap bahasa-bahasa di daerah ini, masih belum ditangani dengan perhatian yang seimbang.

Sangat disayangkan bahwa di daerah tempat aset budaya dan bahasa bangsa sedemikian kayanya, belum terdapat Balai atau Kantor bahasa, yang secara khusus menangani bahasa yang heterogen itu. Jika dibandingkan dengan daerah yang bahasanya homogen seperti di Jawa, terdapat tiga kantor dan balai bahasa. Di samping itu, jika dipertimbangkan bahwa Pusat Pembinaan Bahasa dapat menangani bahasa yang homogen itu langsung dari Jakarta. Seyogyanya sangatlah ideal apabila keadaan serupa itu dapat dipertimbangkan sehingga Jawa yang bahasanya homogen itu hanya memerlukan satu balai atau kantor bahasa, sementara itu di tempat terdapat heterogenitas bahasa dengan keragaman budayanya, seperti NTT, perlu mendapat perhatian dengan adanya sebuah balai atau kantor bahasa. Dengan demikian, terdapat keseimbangan dalam menghargai dan mengembangkan aset kekayaan budaya bangsa.

Berdasarkan implikasi yang terimplisit dari kajian yang dilakukan Dyen tersebut telah termotivasi pula kajian terhadap bahasa-bahasa berkerabat di NTT, seperti yang dilakukan oleh Budasi (2007). Dengan memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif pengelompokan bahasa-bahasa Sumba yang terdiri atas tujuh bahasa berkerabat telah dikaji. Kajian kualitatif ditempuh baik dengan menerapkan metode induktif maupun deduktif sehingga dengan evidensi pengelompokan yang signifikan dikonfrmasi hasil kajian kuantitaif tentang relasi bahasa-bahasa berkerabat di Sumba. Melalui penelitian linguistik komparatif diakronis Bahasa Sumba yang selama ini lebih dipandang hanya terdiri atas sebuah bahasa saja, ternyata melalui penelelitian itu ditemukan tujuh bahasa berkerabat yang erat hubungannya.

Dalam rangka inventarisasi bahasa-bahasa di NTT untuk mencatat jumlah bahasa dan dialek-dialeknya, baik yang berkerabat erat maupun bahasa-bahasa lain yang berada di luar suatu subkelompok bahasa, tentu saja perlu dilakukan perhitungan yang lebih cermat menyangkut jumlah dan status bahasa (termasuk bahasa kelompok pemukim imigran seperti komunitas etnik Bajau) yang tersebar di berbagai daerah di NTT.

Untuk memperoleh hasil yang semakin sesuai dengan kenyataannya, kekayaan budaya bangsa dalam bahasanya, inventarisasi bahasa yang menyangkut jumlah dan statusnya perlu ditangani dengan pertanggungjawaban yang lebih baik. Penelitian bahasa berkerabat dan pembagian dialek-dialeknya perlu dilakukan secara sistematis dan mempertimbangkan penggunaan metode yang tepat dan teori yang sesuai dengan keadaan bahasa-bahasa di tanah air. Pada taraf lanjut, perlu diperhatikan agar perlu dilakukan inventarisasi bahasa termasuk penetapan jumlah bahasa bukan lagi lebih atas dasar pengakuan penutur, seperti yang berlaku di NTT hingga kini, baik oleh kalangan linguis asing maupun pribumi.

2. Inventarisasi yang Memprihatinkan terhadap Bahasa-Bahasa di NTT

Sesuai dengan informasi yang diperoleh dari hasil survey tim peneliti SIL (Summer Institute of Linguistics atau SIL (1997) yang dimuat pula dalam majalah “Ethnology Language of the World”, edisi ke-15 (Grimes, 2000), inventarisasi bahasa-bahasa di NTT dewasa ini, diketahui bahwa terdapat 61 bahasa yang tersebar di wilayah Propinsi ini dan dapat dirinci sebagai berikut.

  1. Bahasa-bahasa di Flores dan Lembata sebanyak 28 bahasa
  2. Bahasa-bahasa di Kabupaten Alor berjumlah 17 bahasa.
  3. Bahasa-bahasa di Sumba (termasuk bahasa Sawu) berjumlah 9 bahasa.
  4. Bahasa-bahasa di Timor berjumlah 7 bahasa (tidak termasuk bahasa-bahasa yang terdapat di Timor Leste).

Cara-cara yang digunakan oleh tim peneliti SIL, Grimms dkk. (1997) tersebut dalam penetapan jumlah dan status bahasa-bahasa serta dialek-dialek di NTT seperti yang diungkapkan itu, secara keseluruhan cukup memprihatinkan sehingga dapat menyebabkan hasil inventarisasi yang dilakukan patut diragukan dan beresiko tidak dapat dipercaya. Mengapa terjadi demikian? Alasannya, oleh karena tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi di lapangan. Sebagai satu contoh, seperti hasil yang dicapai ketika inventarisasi bahasa-bahasa di Kabupaten Flores Timur dilakukan, Bahasa-bahasa berkerabat yang seharusnya diperkirakan berjumlah 6 bahasa saja, di daerah itu dicatat telah mencapai 11 bahasa (tidak termasuk bahasa Melayu Larantuka dan bahasa Bajo di beberapa lokasi enklave di daerah itu). Terjadi penggelembungan angka (jumlah) bahasa di kabupaten Flores Timur dan Lembata. Hal itu dimungkinkan karena penetapan jumlah bahasa yang hanya didasarkan pada pengakuan penutur bahasa setempat saja, sehingga bukan mustahil pandangan itu tidak dapat diterima. Demikian pula, pengunaan teori dan metode dalam pengumpulan dan analisis data perlu dipertimbangkan sebagai faktor penting bagi penetapan inventarissi yang berhasil. Dengan penggunaan metode serta teori yang tepat mampu menjamin hasill kajian yang terandalkan .

Dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan Grimes dkk. tersebut, karya Lauder, dkk. (2000), telah lebih jelas mengunakan metode kuantitatif yang cenderung menerapkan teknik dialektometri. Walaupun demikian, belum dilakukan hasil analisis data yang dijaring melalui 30 titik pengamatan seperti tampak pada publikasi Monografi 200 kosa kata dasar Swadesh bahasa sekerabat di Kabupaten Flores Timur. Dalam publikasi itu telah dinyatakan terdapat 12 bahasa di Flores Timur, .hanya sayangnya penetapannya baru sebatas berdasarkan pengakuan penutur belaka. Pernyataan tentang jumlah itu pun sebenarnya masih jauh dari kenyataanya, karena ternyata jauh melampaui jumlah yang sebenarnya, meskipun dalam jumlah itu belum terbilang dialek bahasa Melayu setempat (Steinhauer, 1985, Kumanireng, 1982). Demikian pula, variasi bahasa Bajau yang terpencar di berbagai enklave di daerah itu

Persoalan lain yang tidak jarang juga dijumpai ketika kegiatan penetapan jumlah dan status bahasa dan dialek-dialek dilakukan baik di Indonesia pada umumnya maupun di NTT pada khususnya; dapat terjadi adanya silang pendapat di antara para linguis karena penggunaan metodologi yang berbeda atau tidak seragam, sehingga tidak terhindarkan perbedaan hasil baik berupa jumlah bahasa maupun dialek-dialeknya dalam klasifikasi bahasa atau kelompok bahasa. Hal demikian, terjadi ketika penetapan jumlah dan status bahasa dialkukan di Kabupaten Alor. Menurut catatatan Grimes dkk. (terdapat 17 bahasa di Kabupaten Alor) namun Lauder (mencatat terdapat 18 bahasa di daerah itu). Seperti dijelaskan Lauder (2000), adanya perbedaan itu hanya karena di antaranya ada sebuah desa yang memiliki dua bahasa yang berbeda, pada hal Grimes mencatat bahwa di desa yang sama itu hanya terdapat satu bahasa saja. Dengan demikian, sebenarnya jumlah 18 bahasa yang ditetapkan Lauder dkk., tidak banyak berbeda dengan penetapan Grimes, dkk.. dan Lauder, dkk.; karena penetapan itu semata-mata masih hanya berdasarkan atas pengakuan penutur. Sekalipun data telah dihimpun dari 30 titik pengamatan dan dipublikasikan dalam Monografi Kosakata Dasar Swadesh di Kabupaten Alor, namun data itu belum sempat dianalisis.

Seandainya data itu dapat dianalisis dengan teknik leksikostatistik atau dialektometri, penetapan jumlah dan status bahasa dan dialek di daerah itu, masih juga terdapat kendala yang tak terhindarkan karena penggunaan instrumen penelitian dalam penjaringan data. Selain itu, kendala lainnya berupa perbedaan pendapat di antara penutur yang menyatakan pengakuan tentang jumlah bahasa dan dialek yang dipakai di suatu wilayah. Penetapan jumlah bahasa di Flores Timur dan Lembata yang dilakukan Grimmes dkk. (1997) dengan mengandaikan pengakuan penutur tentang nama bahasa atau dialek bahasa setempat tidak hanya berdampak pada penetapan Adonara, Lewoingu, Lamalera, dan Mingar di Flores Timur sebagai bahasa sendiri, tetapi terutama juga karena tanpa alasan yang kuat statusnya terdahulu hanya sebagai dialek-dialek dari bahasa Lamaholot saja, dalam survei itu dipandang sebagai bahasa mandiri. Dalam penetapan serupa itu tampaknya kewibawaan penutur berdasarkan pengakuannya lebih berhasil memberi justifikasi tentang status bahasanya, tanpa pemahaman tentang perbedaan antara bahasa dan dialek. Penilaian serupa itu kurang tepat karena berdampak pada pengaburan jumlah dan status bahasa atau dialek yang ditetapkan dalam inventarisasi.

Mengenai situasi kebahasaan, jumlah bahasa dan status bahasa-bahasa di Flores Timur, pendapat Keraf (1978) perlu dicatat. Kalkulasi persentase leksikostatistik digunakannya dalam penetapan peringkat kekerabatan bahasa-bahasa di Flores Timur dan khususnya dialek-dialek bahasa Lamaholot. Hasil temuannya masih dapat diterima karena menggunakan metode yang jelas dan melalui penelitian yang mendalam. Dengan demikian, hasil yang dicapai lebih dapat diterima jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai berdasarkan penetapan yang dilakukan atas dasar pengakuan penutur bahasa semata.

3. Kesimpulan dan Saran

Dari hasil kajian yang berkaitan dengan kegiatan inventarisasi bahasa-bahasa di NTT seperti yang telah diketahui melalui kajian dari para peneliti terdahulu, dapat dijelaskan bahwa masih terdapat kesimpangsiuran pendapat di kalangan para peneliti. Inventarisasi bahasa, untuk mengetahui jumlah dan status bahasa serta dialek bahasa-bahasa di NTT yang lebih memuaskan, masih menghadapi banyak kendala, dan perlu dilakukan dengan pemanfaatan teori dan metodologi yang tepat dan benar.

Pendapat para sarjana yang masih simpang siur mengenai masalah inventarisasi bahasa yang terkait dengan jumlah, bahasa, status bahasa dan dialek-dialeknya terutama, khususnya karena penggunaan metode yang belum seragam. Apabila hanya mengandalkan pada pengakuan para penutur bahasa saja, maka jumlah bahasa maupun status bahasa belum dapat ditetapkan melalui cara yang lebih baik sehingga masih kurang meyakinkan hasilnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang dapat mencapai hasil yang lebih bermutu.

Cara yang masih memperlihatkan kelemahan yang cukup memprihatinkan, karena pencapaian hasil yang kurang sesuai dengan kenyataan perlu dihindari. Perlu digunakan teori dan metode yang lebih sesuai dalam kegiatan menginventarisasi bahasa-bahasa seperti dalam penetapan jumlahnya bukan hanya semata berdasarkan pengakuan penutur sehingga hasil kajian yang dicapai dapat diterima atau diakui.

Hasil kajian yang lebih mendalam terhadap bahasa-bahasa kerabat di NTT perlu menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sehingga pada masa yang akan datang dapat dicapai hasil yang lebih memuaskan dalam melakukan inventarisasi bahasa-bahasa kerabat di NTT.

Meskipun penggunaan metode kuantitatif dalam penetapan jumlah bahasa kerabat baik dengan teknik leksikostatistik maupun dengan teknik leksikostatistik, tidak terlepas dari banyak kelemahannya, namun hasil yang dicapai untuk mencapai gambaran garis besar tentang silsilah kekerabatan bahasa-bahasa di NTT, masih lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan jika tidak hanya mengandalkan pengakuan penutur bahasa setempat belaka, melainkan melalui kajian penelitian yang lebih bermutu dan dapat diandalkan.

Daftar Pustaka

  1. Berthe (1969). La Langue Fataluku. Asie du sud-est et monde insulindien. Paris, 4(3):iii-iv.
  2. Blust, R. A. 1982. “ The Linguistic Value of Wallace Line” BKI. 138: 231-250.
  3. ——–, 1977. “The Proto Austronesian Pronoun and Austronesian Subgrouping Hypothesis. A Preliminary Report. Working Paper in Linguistics 9(2):1-15.
  4. ——–, 1978. “The Proto Austronesian Palatals. Memoir 43: Wellington. The Polynesian Society
  5. Budasi, I Gede. 2007. “Proto Bahasa Sumba”. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
  6. Capell, A. 1969. “The Prehistory of Indonesia”. Oceanic Linguistics. 12:37-47
  7. Collins, James T. 1983. “The Historical Relationships of the Languages of Central Maluku, Indonesia”. PL. D.47.
  8. Cowan, H.K.J 1963. Le Buna de Timor. Une langue “ouest Papoue”. BTLV, 119 (4): 387-400
  9. ———–1973. Note sur la Langue Oirata. Asie du sud-est et monde insulindien. Paris, 4(3):iii-iv.
  10. Dyen Isodore. 1965. A Lexicostatistical Classification of the Austronesian Languages. Baltimore. Memoir 19. Supplement to the IJAL.
  11. —————– 1982. “The Present Status of Some Austronesian Subgrouping Hypothesis”. In Amran Halim, Louis Codrington and Wurm eds. Papers from the TICAL vol. 2: 32-33. PL. 75.
  12. Esser, S.J. 1938. Atlas van Tropisch Nederland. Batavia. Centrum.
  13. Fernandez, Inyo Yos 1988. “Protobahasa Flores”. Disertasi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
  14. ———— 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores. Ende: Nusa Indah.
  15. Greenberg (1971). “Timor-Alor subgrouping” In Thomas Sebeok (ed.) Current Trends in Linguistics.
  16. Grimes, Barbara F. 2000. “Numbers of Austronesian Languages” in Ethnology Language of the World”, edisi ke-15
  17. ——– 1914. “Kan Men de talen van den Indischen Archipel eenewestelijke en eene oostelijeke Afdelingen onderscheiden”. Amsterdam: Verslagen en Mededelingen der Koninklijke Akademi van Wetenschappen. 12:235-63.
  18. ——- 1918. “Manggaraisch”. Ensiclopedie van Nederlandsch Indie.Mouton. The Hague
  19. Keraf, Gregorius. 1977. “Status bahasa-bahasa di Flores Timur”. Dian (4) 7:18, 8:14-15
  20. Mbete, Aron Meko 1992. “Proto Bahasa Bali-Sasak-Sumbawa”. Disertasi. Jakarta. Universitas Indonesia.
  21. Riedel, Von J.G.F. 1885. Galela und Tobeloresen. Utrecht: Hollandischen Residenten.
  22. Salzner, Richard. 1960. Sprachenatlas des Indopazifischen Raumes. Wiesbaden. Otto Harossowitz
  23. Steinhauer, Hein 1989. Bahasa Blagar. Jakarta. Balai Pustaka.
  24. Stokhof, Wim 1978. Fonemik Bahasa Woisika. Jakarta. Balai Pustaka.
  25. Stresemann, E. 1927. Die Lautererscheinungen in den Ambonischen Sprachen. Beiheft.10 Reimer: Berlin
  26. Syamsuddin 2002, Pengelompokan Bahasa Bima-Sumba. Disertasi. Bandung UNPAD
  27. Uhlenbeck, E. M.1971. “Indonesia and Malaysia”. In Thomas Sebeok (ed.) Current Trends in Linguistics.
  28. Voorhoeve, C.L. 1983. The Non Austronesian languages in the North Mollucas. Dalam E.K.M. Masinambow (ed.) Halmahera dan Raja Ampat sebagai Kesatuan Majemuk (Studi-studi terhadap suatu Daerah Transisi. Jakarta: lembaga Ekonomi dan masyarakat Nasional. LIPI.
  29. Wurm, S.A. dan Shiro Hattori 1983. “Maps of Insular South-East Asia. II” PL.C.67. Canberra. The Australian Academy of Humanities.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: